b3

Budaya Korea yang Mengubah Hidup

Suasana di kereta bawah tanah di Seoul, Korea Selatan, Jumat (23/11). Dalam perjalanan, banyak orang, terutama kaum muda, menghabiskan waktu dengan mengutak-atik ponsel. Dari peranti elektronik inilah, mereka melihat video dan mendengarkan lagu-lagu favorit, termasuk K-Pop.

Tidak perlu alasan yang rumit bagi Tirza Anindya Putri (23) untuk memutuskan pergi meninggalkan kampung halamannya, Madiun, Jawa Timur, dan melanjutkan pendidikan S-2 di Korea Selatan. Magnet kuat yang menariknya hingga menempuh jarak ribuan kilometer, melintasi negara, adalah Super Junior atau yang dikenal dengan SuJu, ”boyband” yang menjadi ikon pop Korea atau K-Pop yang mendunia dalam delapan tahun terakhir.

Tirza atau yang akrab disapa Tia, mengatakan, kegemarannya terhadap K-Pop sudah dimulai sejak SMA, sekitar lima tahun silam. Pascalulus kuliah dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana, dia pun menyimpan keinginan besar free 3 reel slots untuk bertemu dengan artis favoritnya, SuJu, di negara asalnya, Korea.

Keinginan itu pun disampaikan kepada kedua orangtuanya. Beruntung, ayahnya yang merupakan salah satu pemilik toko emas di Madiun, memberikan respons jauh melebihi dari yang dibayangkan sebelumnya.

”Daripada sekadar main-main, hanya bertemu SuJu dan setelah itu pulang, ayah justru meminta saya agar sekaligus tinggal, dan melanjutkan kuliah di sini,” ujar Tia, saat ditemui di Incheon, Korsel.

Saat ini, Tia tercatat sebagai mahasiswa yang baru saja menempuh tahun pertama untuk program pascasarjana manajemen bisnis di Hanyang University di Seoul. Tanpa disadari, Tia sebenarnya sudah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Korea, dengan belajar bahasa Korea secara otodidak dari lirik-lirik lagu K-Pop yang didengarnya. Kemampuannya berbahasa Korea semakin dimantapkan dengan program pembelajaran bahasa yang diberikan dalam empat bulan pertama di Hanyang University.

Setelah tinggal di Seoul, Tia pun ingin mengetahui lebih jauh tentang budaya pop Korea. Sembari kuliah, saat ini dia sekaligus mengambil kursus tari dan kursus aransemen musik.

Semuanya, tentu saja, dilakukannya sebagai bagian dari eksplorasi, menuntaskan rasa ingin tahunya tentang pentas musik K-Pop yang kerap ditontonnya. Setelah lulus kuliah S-2, dia pun berharap bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang entertainment di Korea.

Saat ini, dia pun merasa semakin betah dan menyenangi segala sesuatu yang ditemui dalam keseharian, mulai dari makanan hingga teman-teman kuliahnya. ”Di sini, banyak teman kuliah yang ganteng-ganteng seperti artis K-Pop,” ujarnya terkekeh.

Makin populernya nama Korea di dunia internasional, mendorong semakin banyak orang untuk memilihnya sebagai negara tujuan untuk belajar dan menimba ilmu. Kasubdit Promosi Wilayah Asia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jordi Parliama, adalah salah satunya. Tahun ini, dia baru saja mengantarkan putra sulungnya kuliah desain grafis di salah satu perguruan tinggi di Busan, Korsel.

Embel-embel lulusan Korea, diharapkan dapat memberikan pengharapan akan masa depan yang lebih baik karena banyak perusahaan Korea mengembangkan sayap ke berbagai negara termasuk Indonesia.

Selain itu, Korea dianggap sebagai negara yang tepat untuk memberikan bekal pengalaman dan penguasaan bahasa lain selain bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.

”Di tengah persaingan dalam dunia kerja yang semakin ketat, setiap orang saat ini harus memiliki keahlian menguasai bahasa lain selain bahasa Inggris,” ujarnya.

Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Korsel, Bambang Witjaksono, mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, jumlah orang muda yang menempuh kuliah di Korsel meningkat cukup signifikan. Jika pada tahun 2009 terdata 200 orang, maka tahun 2012 ini jumlah mahasiswa asal Indonesia terdata berkisar 600-700 orang. Sekitar 70 persen di antaranya adalah mahasiswa laki-laki, dan kebanyakan dari mereka mengambil kuliah teknik atau ilmu sosial.

Witjaksono mengatakan, dirinya tidak mengetahui secara jelas tentang penyebab meningkatnya minat warga negara Indonesia untuk melanjutkan kuliah di Korea Selatan. Kendatipun demikian, dia memperkirakan bahwa booming budaya Korea juga turut memberikan pengaruh.

Pengaruh Korea

Di Indonesia, pengaruh budaya Korea juga terasa ”menembus” kota kecil seperti Kota Magelang, Jawa Tengah. Asti (24), salah seorang mahasiswa asal Ngentak, Kelurahan Magelang Utara, mengatakan, sejak SMA, dia sudah menggemari segala sesuatu tentang Korea, mulai dari fashion hingga musik K-Pop.

Sama seperti Tia, K-Pop juga memicu minat Asti–yang asli gadis Jawa ini–untuk belajar bahasa Korea secara otodidak.

”Saya ingin mengetahui arti dari lirik lagu-lagu Korea yang saya suka,” ujarnya.

Dia pun belajar bahasa Korea hanya dengan berbekal kamus. Setiap kata dicoba dihafalkan artinya. Untuk melatih pengucapan, dia pun mendengarkan lebih detail lirik lagu yang dilantunkan para penyanyi Korea. Ketika itu, pembelajaran otodidak tersebut berlangsung sekitar satu bulan, dan hingga sekarang, Asti terus berusaha menyempurnakannya.

”Walaupun belum lancar berbahasa Korea, tapi sekarang saya sudah bisa memahami arti kata yang diucapkan artis Korea dalam nyanyiannya, ataupun dalam dialog di serial drama televisi,” ujarnya.

Tidak hanya bahasa, pengaruh budaya Korea ini juga menyebabkan Asti yang sebenarnya tidak terlalu sering mengonsumsi sayuran, menjadi menggemari kimchi, hidangan sayuran khas Korea yang serupa dengan acar, dengan bumbu-bumbu yang sebenarnya asing untuk lidah orang Indonesia.

Di Kota Magelang, juga telah terbentuk komunitas Everlasting Friends (ELF), sebutan bagi para kelompok penggemar SuJu. ELF Kota Magelang saat ini telah memiliki 50 anggota, dengan kisaran usia mulai dari 10 tahun hingga 24 tahun.

Di luar kesibukan sekolah dan kuliah, para anggota ELF ini berkumpul, melakukan beragam aktivitas bersama, mulai dari sekadar mengobrolkan tren fashion Korea sembari menikmati kimchi, hingga latihan menari bersama.

”Kami menyukai berbagai hal tentang Korea,” ujarnya. Saat ini, Asti pun masih memendam perasaan untuk pergi, langsung menjumpai artis-artis idolanya di Korea.

I-Pop

Tren K-Pop yang mendunia ini, mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencoba berinovasi, menciptakan tren budaya serupa, yang disebut Indonesia pop atau I-Pop.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, dalam sejumlah pemberitaan di media massa, mengatakan, sekalipun meniru, sesuai namanya I-Pop haruslah bercita rasa Indonesia.

Agar lagu-lagu I-Pop dapat terkenal dan menjadi hits, penyanyi I-Pop nantinya harus bekerja sama dengan perusahaan besar dunia hiburan. Saat ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah berupaya mendorong pengembangan I-Pop, dan direncanakan musik ini sudah bisa dilihat dan dinikmati masyarakat pada tahun 2014.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, dalam kesempatan terpisah di media online, sempat menyatakan bahwa lagu daerah kita pun berpotensi besar untuk dipopulerkan dan mendunia karena saat ini kesenian daerah sudah memiliki peminat khusus di pasar global.

Dia mencontohkan, musik gamelan sudah pernah tampil di 35 panggung di mancanegara. Di California, Amerika Serikat, gamelan terdapat di 20 kota, dan di Jepang, terdapat 20 kelompok kesenian tradisional Indonesia.

Jadi, apakah lagu ”Ilir-ilir”, lagu tradisional Jawa Tengah bisa sepopuler ”Mr Simple” atau ”Sorry, Sorry Bonamana” dari SuJu? Kita tunggu saja…. (Regina Rukmorini)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply